pic
Sejarah UMM Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) berdiri pada tahun 1964, atas prakarsa tokoh-tokoh dan Pimpinan Muhammadiyah Daerah Malang. Pada awal berdirinya Universitas Muhammadiyah Malang merupakan cabang dari Universitas Muhammadiyah Jakarta, yang didirikan oleh Yayasan Perguruan Tinggi Muhammadiyah Jakarta dengan Akte Notaris R. Sihojo Wongsowidjojo di Jakarta No. 71 tang-gal 19 Juni 1963. Pada waktu itu, Universitas Muhammadiyah Malang mempunyai 3 (tiga) fakultas, yaitu (1) Fakultas Ekonomi, (2) Fakultas Hukum, dan (3) Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Jurusan Pendidik...
pic
Kepemimpin di Alam Terbuka Kepemimpinan Kepemimpinan (leadership) pada hakekatnya adalah sikap , pikiran dan semangat kejiwaan (state of mind and stite of spirit), yang terpanggil untuk memimpin untuk dengan segala macam ucapan, perbuatan dan perilaku hidup, untuk mendorong dan mengantarkan yang dipimpinnya kearah tujuan bersama. Dengan demikian , dimensi kepemimpinan mencangkup aspek yang luas, sejak penampilan pribadi (individual), hubungan antar pribadi dan bidang hubungan-hubungan dalam organisasi. Kajian kepemimpinan di alam terbukan pada Diklatpim Tingkat. IV, focus pengkajia...
pic
A. Latar Belakang Keberhasilan seorang pemimpin dapat ditentukan oleh sifat-sifat, perangai atau ciri-ciri yang dimiliki oleh pemimpin itu. Sifat tersebut dapat berupa sifat fisik atau sifat psikologis. Untuk menjadi seorang pemimpin yang berhasil sangat ditentukan kemampuan pribadi pemimpin. Kemampuan pribadi yang dimaksud adalah kualitas seseorang dengan berbagai macam sifat-sifat, perangai atau ciri-ciri di dalamnya. Oleh karena itu timbul usaha para ahli untuk meneliti dan memerinci lebih jauh kualitas seorang pemimpin yang berhasil di dalam melaksanakan tugas-tugas kepemimpinannya, kemu...
pic
Kepemimpinan sesungguhnya tidak ditentukan oleh pangkat atau pun jabatan seseorang. Kepemimpinan adalah sesuatu yang muncul dari dalam dan merupakan buah dari keputusan seseorang untuk mau menjadi pemimpin, baik bagi dirinya sendiri, bagi keluarganya, bagi lingkungan pekerjaannya, maupun bagi lingkungan sosial dan bahkan bagi negerinya. Oleh ARIBOWO PRIJOSAKSONO Hal ini dikatakan dengan lugas oleh seorang jenderal dari Angkatan Udara Amerika Serikat: ”I don’t think you have to be wearing stars on your shoulders or a title to be a leader. Anybody who wants to raise his hand can be ...
pic
Imam Safi'i kelahiran asli kota tercinta saya yaitu kota Bojonegoro, lahir tepatnya di bojonegoro tanggal 28 juni 1991, sekarang saya berumur 19 tahun dan kegiatan saya yaitu kuliah di kota dingin yaitu kota malang tepatnya saya kuliah di universitas muhammadiyah malang.  ...
Aug

20

sejarah UMM Malang
Posted by amfii

Sejarah UMM

Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) berdiri pada tahun 1964, atas prakarsa tokoh-tokoh dan Pimpinan Muhammadiyah Daerah Malang. Pada awal berdirinya Universitas Muhammadiyah Malang merupakan cabang dari Universitas Muhammadiyah Jakarta, yang didirikan oleh Yayasan Perguruan Tinggi Muhammadiyah Jakarta dengan Akte Notaris R. Sihojo Wongsowidjojo di Jakarta No. 71 tang-gal 19 Juni 1963.

Pada waktu itu, Universitas Muhammadiyah Malang mempunyai 3 (tiga) fakultas, yaitu (1) Fakultas Ekonomi, (2) Fakultas Hukum, dan (3) Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Jurusan Pendidikan Agama. Ketiga fakultas ini mendapat status Terdaftar dari Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi pada tahun 1966 dengan Surat Keputusan Nomor 68/B-Swt/p/1966 tertanggal 30 Desember 1966.

Pada tanggal 1 Juli 1968 Universitas Muhammadiyah Malang resmi menjadi universitas yang berdiri sendiri (terpisah dari Universitas Muhammadiyah Jakarta), yang penyelenggaraannya berada di tangan Yayasan Perguruan Tinggi Muhammadiyah Malang, dengan Akte Notaris R. Sudiono, No. 2 tertanggal 1 Juli 1968. Pada perkembangan berikutnya akte ini kemudian diperbaharui dengan Akte Notaris G. Kamarudzaman No. 7 Tanggal 6 Juni 1975, dan diperbaharui lagi dengan Akte Notaris Kumalasari, S.H. No. 026 tanggal 24 November 1988 dan didaftar pada Pengadilan Malang Negeri No. 88/PP/YYS/ XI/ 1988 tanggal 28 November 1988.

Pada tahun 1968, Universitas Muhammadiyah Malang menambah fakultas baru, yaitu Fakultas Kesejahteraan Sosial yang merupakan fi‘lial dari Fakultas Kesejahteraan Sosial Universitas Muhammadiyah Jakarta. Dengan demikian, pada saat itu Universitas Muhammadiyah Malang telah memiliki empat fakultas. Selain itu, FKIP Jurusan Pendidikan Agama mendaftarkan diri sebagai Fakultas Agama yang berada dalam naungan Departemen Agama dengan nama Fakultas Tarbiyah.

Pada tahun 1970 Fakultas Tarbiyah ini mendapatkan status yang sama dengan Perguruan Tinggi Agama Islam Negeri (IAIN), dengan Surat Keputusan Menteri Agama Nomor 50 Tahun 1970. Pada tahun ini pula Fakultas Kesejahteraan Sosial mengubah namanya menjadi Fakultas Ilmu Sosial dengan Jurusan Kesejahteraan Sosial. Kemudian pada tahun 1975 Fakultas ini resmi berdiri sendiri (terpisah dari Universitas Muhammadiyah Jakarta) dengan Surat Keputusan Terdaftar Nomor 022 A/1/1975 tanggal 16 April 1975.

Fakultas yang kemudian ditambahkan adalah Fakultas Teknik, yaitu pada tahun 1977. Pada tahun 1980 dibuka pula Fakultas Pertanian, kemudian menyusul Fakultas Peternakan. Antara tahun 1983 sampai dengan 1993, ditambahkan jurusan-jurusan baru dan ditingkatkan status jurusan-jurusan yang suudah ada. Yang terakhir, pada tahun 1993 Universitas Muhammadiyah Malang membuka Program Pascasarjana Program Studi Magister Manajemen dan Magister Sosiologi Pedesaan

.

Sampai tahun akademik 1994/1995 ini, Universitas Muhammadiyah Malang telah memiliki 9 fakultas dan 25 jurusan/program studi tingkat strata Si, dua program studi strata-S2, dan satu akademi /strata-D3 Keperawatan.

Pada rentang tiga puluh tahun perjalanan UMM ini (1964- 1994), perkembangan yang paling berarti dimulai pada tahun 1983-an. Sejak saat itu dan seterusnya UMM mencatat perkembangan yang sangat mengesankan, balk dalam bidang peningkatan status Jurusan, dalam pembenahan administrasi, penambahan sarana dan fasilitas kampus, maupun penambahan dan peningkatan kualitas tenaga pengelolanya (administrasi dan akademik).  Tahun 2009, UMM menggabungkan Fakultas Pertanian dan Fakultas Peternakan-Perikanan menjadi Fakultas Pertanian dan Peternakan agar sesuai dengan konsorsium Ilmu-ilmu Pertanian.

Dalam bidang sarana fisik dan fasilitas akademik, kini telah tersedia tiga buah kampus: Kampus I di Jalan Bandung No. 1, Kampus II di Jalan Bendungan Sutami No. 188a, dan Kampus III (Kampus Terpadu) di Jalan Raya Tlogo Mas. Dalam bidang peningkatan kuantitas dan kualitas tenaga akademik, telah dilakukan (1) rekruitmen dosen-dosen muda yang berasal dari berbagai perguruan tinggi terkemuka di pulau Jawa, (2) Peningkatan kualitas para dosen dengan mengirim mereka untuk studi lanjut (S2 dan S3) di dalam maupun di luar negeri.

Berkat perjuangan yang tidak mengenal berhenti ini, maka kini Universitas Muhammadiyah Malang sudah menjelma ke arah perguruan tinggi alternatif. Hal ini sudah diakui pula oleh Koordinator Kopertis Wilayah VII yang pada pidato resminya pada wisuda sarjana Universitas Muhammadiyah Malang tanggal 11 Juli 1992, mengemukakan bahwa UMM tergolong perguruan tinggi yang besar dan berprospek untuk menjadi perguruan tinggi masa depan.(sumber:umm.ac.id)

Aug

20

Kepemimpin di Alam Terbuka

Kepemimpinan

Kepemimpinan (leadership) pada hakekatnya adalah sikap , pikiran dan semangat kejiwaan (state of mind and stite of spirit), yang terpanggil untuk memimpin untuk dengan segala macam ucapan, perbuatan dan perilaku hidup, untuk mendorong dan mengantarkan yang dipimpinnya kearah tujuan bersama. Dengan demikian , dimensi kepemimpinan mencangkup aspek yang luas, sejak penampilan pribadi (individual), hubungan antar pribadi dan bidang hubungan-hubungan dalam organisasi.

Kajian kepemimpinan di alam terbukan pada Diklatpim Tingkat. IV, focus pengkajiannya pada tingkat individual (trusf worthiness) dan hubungan antar pribadi dalam kelompok (trust) serta manajerial atau kepemimpinan dalam kelompok (team work).

Potensi, Kepribadian, Sikap dan Perilaku Diri Sendiri dan Orang lain

Setiap individu pada hakekatnya memiliki potensi yang dapat dikembangkan, berbagai potensi tersebut, mencangkup :

  1. Kemampuan dasar, seperti tingkat intelegensia, kemampuan abstraksi, kemampuan logika, dan imajinasi serta daya tangkap.
  2. Kemampuan-kemampuan dalam sikap bekerja, seperti ketekunan, ketelitian, tempo kerja dan daya tahan terhadap stress.
  3. Kemampuan yang tercermin dalam kepribadiannya, yaitu kebiasaan-kebiasaan efektif, baik secara fisik, sosial emosional maupun secara mental spiritual. (St. Poul Society, dlaam Pranoto, 1999, dan Stephen covey, 1996).

Manusia pada hakekatnya sama, yaitu makluk bumi yang mendapat anugrah lebih dari pada hewan dan mahluk lainnya. Kelebihan tersebut mencangkup : mental intelektual, spiritual, imajinasi dan nurani yang dapat membedakan yang salah dan benar (Stephen Coovey, 1996). Keempat komponen manusiawi tersebut merupakan potensi yang dimiliki manusia (human resource endowments) yang dapat menjadikannya sebagai pemimpin di muka bumi ini.

Bersamaan dengan perkembangan cyrclus hidup alamiahnya, (tidak ada, lahir, bayi, kanak-kanak , dewasa, tua, dan tidak ada lagi), kemampuan manusia untuk memanfaatkan keempat potensi manusiawi dimuka berkembang pula. Dalam perkembangan kematangan yang berkelanjutan (maturity continuum) ini (lihat gambar 2), kemudian dapat diidentifikasikan adanya perbedaan-perbedaan dalam kepribadian , sikap dan perilaku.

Gambar 2. Tingkatan Kematangan Seseorang

Kepribadian (personality) seseorang, merupakan penampilan karakter yang nampak sehari-hari dan dapat dinilai oleh ornag lain. Hubungan antara karakter dan kepribadian ini, seperti nampak pada gambar 3, merupakan satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan. Walaupun sering kepribadian yang nampak bukan cerminan karakter yang sebenarnya, tetapi yang ideal adalah apabila karakter yang sebenarnya, tetapi yang ideal adalah apabila karakter seseorang tercermin dalam kepribadiannya (tidak ada kepalsuan).

Gambar 3. Karakter dan Kepribadian Seperti

Gunung Es Ditengah-tengah Samudra

Kepribadian seseorang yang berkembang (dapat dikembangkan) antara lain sifat-sifat ketegasan dalam mengabil keputusan, berpandangan positif (positive thinking), mawas diri, tenggang rasa, obyektivitas,dan tanggung jawab. Keenam sifat-sifat kepribadian yang berkembang inilah yang membedakkan sikap dan perilaku antara manusia yang satu dengan lainnya, antara pemimpin dan pengikut, antara pemimpin yang satu dengan yang llainnya. (sumber : Edwin A. Locke & Associates, 1997, Esensi Kepemimpinan, Terjemahan Aris Ananda, Penerbit : Spektrum)

Aug

19

A. Latar Belakang
Keberhasilan seorang pemimpin dapat ditentukan oleh sifat-sifat, perangai atau ciri-ciri yang dimiliki oleh pemimpin itu. Sifat tersebut dapat berupa sifat fisik atau sifat psikologis.
Untuk menjadi seorang pemimpin yang berhasil sangat ditentukan kemampuan pribadi pemimpin. Kemampuan pribadi yang dimaksud adalah kualitas seseorang dengan berbagai macam sifat-sifat, perangai atau ciri-ciri di dalamnya. Oleh karena itu timbul usaha para ahli untuk meneliti dan memerinci lebih jauh kualitas seorang pemimpin yang berhasil di dalam melaksanakan tugas-tugas kepemimpinannya, kemudian hasil-hasil tersebut dirumuskan ke dalam sifat-sifat umum seorang pemimpin. Usaha tersebut melahirkan dan berkembang menjadi teori kepemimpinan yang disebut “teori sifat-sifat kepemimpinan” atau traits theory of leadership”

B. Berbagai Macam Pendapat

Tokoh yang mengupas sifat kepemimpinan adalah Barnard, Ordway Tead, Millet, Stogdill, Davis, G.R. Terry, Ruslan Abdulgani, dan sebagainya. Usaha yang dilakukan para ahli sangat heterogen, sehingga kadang-kadang timbul keragu-raguan terhadap hasil tersebut.
Berbagai pendapat yang berbeda-beda diantaranya adalah :
1. Ordway Tead
Ada sepuluh macam sifat atau perangai yang harus dimiliki seorang pemimpin, yaitu :
a. Energi jasmani dan rohani (physical and nervous energy)
b. Kepastian akan maksud dan arah tujuan (a sense of purpose and direction)
c. Antusiasme atau perhatian yang besar (anthusiasm)
d. Ramah tamah, penuh rasa persahabatan dan ketulusan hati (friendlieness and effecticeness)
e. Integritas atau pribadi yang bulat (integrity)
f. Kecakapan teknis (technical mastery)
g. Mudah mengambil keputusan (decisioness)
h. Cerdas (intelligence)
i. Kecakapan mengajar (teaching skill)
j. Kesetiaan (faith)
Sifat-sifat tersebut untuk para pemimpin pada umumnya, tetapi pada prakteknya kesepuluh sifat tersebut tidak harus bersama-sama dimiliki oleh seorang pemimpin melainkan sangat bergantung pada tingkat kondisi dari pengikutnya
2. John D. millet
Ada empat sifat yang perlu dimiliki oleh seorang pemimpin, yaitu :
a. Kemampuan melihat organisasi sebagai satu keseluruhan (the ability to see an enterprise as a whole)
b. Kemampuan mengambil keputusan-keputusan (the ability to make decisions)
c. Kemampuan melimpahkan atau mendelegasikan wewenang (the ability to delegate authority)
d. Kemampuan menanamkan kesetiaan (the ability to command loyality)
3. Keith Davis
Dalam bukunya yang berjudul Human Behavior at Work : Human relations and Organizational Behavior, Davis mengemukakan empat macam kelebihan kelebihan sifat-sifat yang perlu dimilki oleh pemimpin, yaitu :
a. Intelegensia (intelligence)
Memiliki kecerdasan yang lebih tinggi daripada bawahannya
b. Kematangan dan keluasan pandangan social (social maturity and breadth)
Pemimpin harus lebih matang dan lebih luas dalam hal yang berkaitan dengan kemasyarakatan sehingga mudah mengendalikan keadaan, kerja sama sosial, serta mempunyai keyakinan dan kepercayaan pada diri sendiri.
c. Mempunyai motivasi dan keinginan berprestasi yang datang dari dalam (inner motivation and avhievement desires)
Pemimpin diharapkan harus selalu mempunyai dorongan yang besar untuk dapat menyelesaikan sesuatu.
d. Mempunyai kemampuan mengadakan hubungan antar manusia (human relations attitudes)
Pemimpin harus selalu lebih mengetahui terhadap bawahannya, sebab dalam kehidupan organisasi diperlukan adanya kerja sama atau saling ketergantungan antara anggota-anggota kelompok. Pemimpin perlu berorientasi pada bawahan.
4. Chester I. Barnard
Ada dua sifat utama yang perlu dimiliki pemimpin, yaitu :
a. Sifat-sifat pribadi yang meliputi : fisik, kecakapan (skill), teknologi (technology), daya tanggap (perception), pengetahuan (perception), daya ingat (memory), imajinasi (imagination)
b. Sifat-sifat pribadi yang mempunyai watak yang lebih subjektif, yaitu keunggulan seorang pemimpin di dalam : keyakinan (determination), ketekunan (persistence), daya tahan (endurance), keberanian (courage)
5. Ralph Stogdill
Berdasarkan penelitian Stogdill ada dua periode penelitian yaitu periode 1904-1947 dan periode 1948-1970.
a. Periode 1904-1947
Dalam tahap ini, kepemimpinan ditandai dengan berbagai sifat yang meliputi : usia (chronological age); Tinggi badan (height); berat badan (weight); gejala fisik, energi, kesehatan; penampilan (apperence); kemampuan berbicara (fluency of speak); scholarship; pengetahuan (knowlwdge); kemampuan menilai dan mengambil keputusan (judgement and decision); kawasan (insight), keaslian; kemampuan menyesuaikan (adaptability); introvers dan extrovers (introversion – extraversion); berbagai keunggulan (dominance); inisiatif, tekun, semangat (initiative, persistence, ambition); tanggung jawab (responsibility); harga diri dan keyakinan (integrity and conviction); percaya pada diri sendiri (self confidence); pengendalian diri, optimis (mood controle, mood optimission); pengendalian emosi (emotional control); social and economic status; aktivitas sosial dan mobilitas (social activity and mobility); kegiatan olah raga (biosocial activity); kecakaan bergaul (social skill); ketenaran, wibawa (popularity, prestige); kerja sama (cooperation).
Sifat-sifat di atas dikelompokkan ke dalam komponen pokok :
1) Capacity, meliputi kecerdasan (intelligence), kewaspadaan (alertness), kemampuan berbicara (verbal facility), keslian (originality), dan kemampuan menilai (judgement)
2) Achievement, meliputi gelar kesarjanaan (scholarship), pengetahuan (knowledge), keberhasilan dalam olah raga (athletic accomplishment).
3) Responsibility, meliputi berdikari (independability, iisiatif, ketekunan (persistence), agresif (aggressiveness), percaya pada diri sendiri (self confidence), keinginan untuk unggul (desire to exel)
4) Participation, meliputi aktif, kemampuan bergaul (social ability), kerja sama (cooperation), mudah menyesuaikan diri (adaptability), humor
5) Status, meliputi kedudukan sosial ekonomi (social economic position), ketenaran (popularity)
Selain lima kelompok di atas, Stognill mengemukakan kelompok lain yaitu situasi (situation) yang meliputi mental level, status, skills, needs, interest of followers, objectives to be achieved, etc.
b. Periode 1948-1970
Pada tahap ini ada banyak variabel yang dikelompokkan menjadi komponen pokok sebagai berikut :
1) Physical characteristics (cirri-ciri fisik) : activity, energy (aktivitas, kekuatan), age (usia), appearance, grooming (penampilan, kerapihan), height (tinggi badan), weight (berat badan)
2) Social background (latar belakang sosial) : education (pendidikan), social status (atatus sosial), mobility (mobilitas)
3) Intellegence and ability (kecerdasan dan kecakapan) : intelligence judgement, decisiveness (kemampuan menilai, pengambilan keputusan), knowledge
4) Personalty (kepribadian), adaptability (penyesuaian diri), adjustment, normality (penyesuaian diri, biasa), aggressiveness, assertiveness, alertness (ketekunan), ascendance, dominance (pengaruh, keunggulan), emotional balance, control (penguasaan emosi, pengendalian), anthusiasm, extroversion, independence, nonconformity (kebebasan, ketidakserasian), objectivity, though-mindedness, originality, creativity, personal integrity, ethical conduct, resourcefulness (banyak akal budinya), self confidence, strongth of conviction (kuat pendirian), tolerance of stress
5) Task related characteristic (ciri-ciri yang berorientasi pada tugas) : achievement drive, desire to excel (dorongan berprestasi, unggul), drive for responsibility (dorongan bertanggung jawab), enterprise, initiative (kepelaporan, inisiatif), persistence against (tangguh menghadapi halangan), responsible in pursuit of objectives (bertanggung jawab dalam mencapai tujuan), task orientation (berorientasi pada tugas).
6) Social characteristic (semangat kerja sama) : ability to enlist cooperative (kesanggupan untuk memperoleh kerja sama), administrative ability, attractiveness (daya tarik), cooperative nurturance (berjiwa mengasuh), popularity, prestige, sociability, interpersonal skills (kemampuan bekerja sama, kecakapan saling berhubungan) social participation, tact, diplomacy.
6. Empu Prapanca dan Ruslan Abdulgani
Para pendahulu kita sesungguhnya telah mewariskan nilai-nilai kepemimpnan yang sangat tinggi dan mulia. Di dalam ajarannya terkandung nilai-nilai moral yang lebih awal harus ditanamkan sehingga akan mendarah daging dan merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan berbangsa dan bernegara. Ada tiga alasan prinsip :
a. Nilai-nilai moral yang mencerminkan berbagai petunjuk, nasihat, pengendalian diri, kewajiban, dan sebagainya pada hakikatnya bersumber dari nilai-nilai Pancasila
b. Ajaran kepemimpinan “keteladanan” menempatkan pemimpin sebagai tokoh panutan yang ucapan, perilaku dan tindakannya selalu dijadikan contoh, daya penggerak bagi bawahan dan lingkungannya
c. Bila pemimpin sudah menguasai secara baik nilai-nilai kepemimpinan yang diwariskan nenek moyang, sama hakikatnya mereka telah memiliki benteng yang dapat diandalkan untuk menghadapi infilterasi, nilai-nilai ajaran kepemimpinan dunia luar yang bertentangan dengan kepribadian.
Sebagai perbandingan dengan pendapat dari luar tentag kepemimpinan perlu diketengahkan ajarn tentang kepemimpinan yang dikemukakan oleh Empu Prapanca dan Ruslan Abdulgani.

a. Panca Dasa Kepemimpinan Shri Mahapatih Gajah Mada
Gajah Mada telah menggariskan sifat pemimpin yang baik yang disebut Panca Dasa yang dilukiskan dalam buku Negara Kertagama buah tangan Empu Prapanca, yang merupakan sifat-sifat yang dimiliki oleh seorang pemimpin besar yang berhasil. Sifat kepemimpinan tersebut masih relevan sampai saat ini.
Kelima belas sifat-sifat pemimpin tersebut adalah sebagai berikut :
1) Wijnana – Sikap Bijaksana
Pemimpin hendaklah bersikap bijaksana, penuh hikmah dan ketekunan, terutama didalam mengatasi suatu kesukaran dan atau kegentingan yang menimpa organisasinya, negaranya ataupun pribadinya sebagai pemimpin sehingga tidak mudah putus asa dalam mencari jalan keluar dari masalah yang dihadapi
2) Mantra wira – sebagai pembela Negara sejati
Berkeberanian mutlak dalam kebenaran dan kesetiaan tanpa reserve dalam menjunjung cita-cita Negara. Seorang pemimpin mempunyai pengabdian yang tinggi dan keikhlasan berkorban demi tujuan Negara.
3) Wicaksanang Naya – bijaksana – kemampuan menganalisa dan mengambil keputusan
Seorang pemimpin bijaksana dalam bermain politik dengan berpedoman pada Tri kala yaitu : Atita, bisa mengenang kejadian masa lalu; Nagat, bisa menerka kejadian yang akan dating; dan wartama, dapat menentukan sikap dan mengambil keputusan pada masa sekarang dengan tepat
4) Matanggawa – mendapat kepercayaan dari bawahan
Pemimpin harus mendapatkan kepercayaan yang tinggi dari bawahannya. Ini merupakan syarat utama kepemimpinan yang menentukan kuat serta tegaknya seorang pemimpin. Pemimpin yang demikian tidak akan mengabaikan kepercayaan yang dipikulnya dan bekerja lebih tekun dalam mewujudkan kepentingan umum.
5) Satya bakti haprabhu – loyal pada atasan
Taat setia dan bakti kepada pemimpin, atasan, terutama kepada Negara dan pimpinannya dapat menghindarkan dari pengkhianatan terhadap Negara dan rakyatnya, karena nasib Negara itu adalah nasib juga nasib dari dirinya sendiri.
6) Wakjnana – pandai berpidato dan berdiplomasi
Memiliki kepandaian dalam berpidato dalam lingkungan kecil maupun di depan umum, termasuk juga ahli dalam berdiplomasi, karena hal-hal di atas merupakan senjata ampuh dalam membangkitkan kesadaran rakyat yang dibawakan oleh pandangan hidup dan aliran politiknya.
7) Sajjawopasama – tidak sombong, rendah diri, manusiawi
Bersifat tidak sombong, mudah member hati kepada orang lain, bermuka manis, pemaaf dan selalu mendekatkan diri kepada kawan seperjuangan serta rakyat yang dipimpinnya. Sifat ini menghindarkan pemimpin dari sifat takabur, merasa lebih unggul dan bangga pada kesanggupan diri sendiri. Merupakan sifat yang sangat sulit didapat oleh seorang pemimpin
8) Dhirottsaha – bersifat rajin, kreatif
Bersifat rajin dan sungguh-sungguh dalam menjalankan segala pekerjaan, selalu kreatif penuh dengan inisiatif yang menuju ke arah kebaikan dan kesejahteraan daripada negara
9) Tan Lalana – bersifat gembira, periang
Bersifat gembira/periang, tidak mudah runtuh oleh suatu kesedihan melainkan senantiasa menunjukkan sikap yang bangun tegak, teguh iman dalam pahit getirnya perjuangan bagaikan batu karang di dasar samudra.

10) Disyacitta – jujur, terbuka
Bersifat baik, jujur dan dapat menerima pendapat orang lain, selalu mau menerima pemikiran-pemikiran orang lain walaupun dari bawahannya.
11) Tan Satrisna – Tidak egois
Tidak terikat pada pemberian, tidak bersifat egoistis yang mengutamakan diri sendiri.
12) Masihi Samastha Bhuwana – bersifat penyayang, cinta alam
Pemimpin bersifat penyayang dan cinta pada seluruh alam dengan keyakinan hidup.
13) Ginong Pratidina – tekun menegakkan kebenaran
Selalu tekun untuk menegakkan kebenaran, untuk mengagungkan Negara agar tetap memperoleh wibawa dari bawahan
14) Sumantri – sebagai abdi Negara yang baik
Menunjukkan sikap dan sifat sebagai abdi Negara yang baik, sifat ini perlu dimiliki oleh setiap pengendali organisasi/pemerintahan, sebab mereka menjadi sorotan dan contoh dari bawahannya/rakyatnya
15) Anayakan Musuh – mampu membinasakan lawan
Setiap pemimpin harus sanggup memusnahkan musuh Negara dan musuh masyarakat. Sifat ini bukan berarti kejam, namun kasih saying tetap diutamakan, perdamaian kita hormati, namun tidak gentar menumpahkan darah dalam pembelaan keagungan Negara dari musuh yang akan menistakan kedaulatan Negara.

b. Ruslan Abdulgani
Seorang pemimpin harus mempunyai kelebihan dari yang dipimpin. Dengan adanya kelebihan, kewibawaan seseorang akan selalu dapat dipertahankan, sehingga ketaatan dari bawahan dapat terpelihara.

Kelebihan tersebut meliputi empat hal, yaitu :
1) Moral dan akhlak
2) Jiwa dan semangat
3) Ketajaman intelek dan persepsi
4) Ketekunan dan kekuatan jasmaniah

C. Beberapa kelemahan
Teori yang dikemukakan di atas disamping mendapat pertentangan dari berbagai pihak, dalam prakteknya mempunyai kelemahan yang sulit dipraktekkan. Kelemahan tersebut antara lain :
1. Diantara para pendukung teori tersebut tidak ada kekompakan sehingga timbul berbagai pendapat diantara para pendukung teori tersebut
2. Teori sifat terlalu bersifat deskriptif, tidak mempunyai analisis bagaimana sifat-sifat itu kaitannya dengan keberhasilan seorang pemimpin
3. Tidak selalu ada relevansi antara-antara sifat yang dianggap unggul tersebut dengan efektivitas kepemimpinan
4. Terlalu sulit untuk menentukan dan mengukur masing-masing sifat yang berbeda-beda satu dengan yang lain
5. Situasi dan kondisi tertentu dimana kepemimpinan dilaksanakan, memerlukan sifat pemimpin yang tertentu pula.

D.Simpulan
Dalam kepemimpinan yang menerapkan prinsip keteladanan, setiap pemimpin dalam kehidupan organisasi, ditampilkan sebagai tokoh panutan, atau tokoh yang selalu diteladani oleh bawahannya. Sebagai tokoh panutan yaitu tokoh yang dianut oleh bawahannya, harus selalu memberikan contoh-contoh positip terhadap bawahannya. Sifat-sifat yang unggul tersebut di atas merupakan kepribadian pemimpin yang didalamnya mengandung arti luas : kecakapan, daya tangkap, pengetahuan, daya ingat, imajinasi, keyakinan, ketekunan, daya tahan, kejujuran, keberanian, harga diri dan berbagai nilai moral yang lain. Dengan berbagai keunggulan yang dimiliki pemimpin, kewibawaan seorang pemimpin akan selalu dapat dipertahankan, sehingga ketaatan dari bawahan dapat terpelihara. Kepemimpinan yang menganut prinsip “keteladanan” akan berhasil melaksanakan tugas-tugas kepemimpinannya apabila prinsip-prinsip teori sifat dapat dilaksanakan dengan sebaik-baiknya.

Aug

19

Kepemimpinan Sejati
Posted by amfii

Kepemimpinan sesungguhnya tidak ditentukan oleh pangkat atau pun jabatan seseorang. Kepemimpinan adalah sesuatu yang muncul dari dalam dan merupakan buah dari keputusan seseorang untuk mau menjadi pemimpin, baik bagi dirinya sendiri, bagi keluarganya, bagi lingkungan pekerjaannya, maupun bagi lingkungan sosial dan bahkan bagi negerinya.

Oleh ARIBOWO PRIJOSAKSONO

Hal ini dikatakan dengan lugas oleh seorang jenderal dari Angkatan Udara Amerika Serikat:

”I don’t think you have to be wearing stars on your shoulders or a title to be a leader. Anybody who wants to raise his hand can be a leader any time.”
—General Ronal Fogleman, US Air Force—

Kepemimpinan adalah sebuah keputusan dan lebih merupakan hasil dari proses perubahan karakter atau transformasi internal dalam diri seseorang. Kepemimpinan bukanlah jabatan atau gelar, melainkan sebuah kelahiran dari proses panjang perubahan dalam diri seseorang. Ketika seseorang menemukan visi dan misi hidupnya, ketika terjadi kedamaian dalam diri (inner peace) dan membentuk bangunan karakter yang kokoh, ketika setiap ucapan dan tindakannya mulai memberikan pengaruh kepada lingkungannya, dan ketika keberadaannya mendorong perubahan dalam organisasinya, pada saat itulah seseorang lahir menjadi pemimpin sejati. Jadi pemimpin bukan sekedar gelar atau jabatan yang diberikan dari luar melainkan sesuatu yang tumbuh dan berkembang dari dalam diri seseorang. Kepemimpinan lahir dari proses internal (leadership from the inside out).

Ketika pada suatu hari filsuf besar Cina, Lao Tsu, ditanya oleh muridnya tentang siapakah pemimpin yang sejati, maka dia menjawab:
As for the best leaders, the people do not notice their existence.  The next best, the people honour And praise.The next, the people fear, And the next the people hate. When the best leader’s work is done, The people say, ‘we did it ourselves’.

Justru seringkali seorang pemimpin sejati tidak diketahui keberadaannya oleh mereka yang dipimpinnya. Bahkan ketika misi atau tugas terselesaikan, maka seluruh anggota tim akan mengatakan bahwa merekalah yang melakukannya sendiri. Pemimpin sejati adalah seorang pemberi semangat (encourager), motivator, inspirator, dan maximizer.  Konsep pemikiran seperti ini adalah sesuatu yang baru dan mungkin tidak bisa diterima oleh para pemimpin konvensional yang justru mengharapkan penghormatan dan pujian (honor and praise) dari mereka yang dipimpinnya. Semakin dipuji bahkan dikultuskan, semakin tinggi hati dan lupa dirilah seorang pemimpin. Justru kepemimpinan sejati adalah kepemimpinan yang didasarkan pada kerendahan hati (humble). Pelajaran mengenai kerendahan hati dan kepemimpinan sejati dapat kita peroleh dari kisah hidup Nelson Mandela. Seorang pemimpin besar Afrika Selatan, yang membawa bangsanya dari negara yang rasialis, menjadi negara yang demokratis dan merdeka.  Saya menyaksikan sendiri dalam sebuah acara talk show TV yang dipandu oleh presenter terkenal Oprah Winfrey, bagaimana Nelson Mandela menceritakan bahwa selama penderitaan 27 tahun dalam penjara pemerintah Apartheid, justru melahirkan perubahan dalam dirinya. Dia mengalami perubahan karakter dan memperoleh kedamaian dalam dirinya. Sehingga dia menjadi manusia yang rendah hati dan mau memaafkan mereka yang telah membuatnya menderita selama bertahun-tahun. Seperti yang dikatakan oleh penulis buku terkenal, Kenneth Blanchard, bahwa kepemimpinan dimulai dari dalam hati dan keluar untuk melayani mereka yang dipimpinnya. Perubahan karakter adalah segala-galanya bagi seorang pemimpin sejati. Tanpa perubahan dari dalam, tanpa kedamaian diri, tanpa kerendahan hati, tanpa adanya integritas yang kokoh, daya tahan menghadapi kesulitan dan tantangan, dan visi serta misi yang jelas, seseorang tidak akan pernah menjadi pemimpin sejati.

karakter Seorang Pemimpin Sejati


Setiap kita memiliki kapasitas untuk menjadi pemimpin. Dalam tulisan ini saya memperkenalkan sebuah jenis kepemimpinan yang saya sebut dengan Q Leader. Kepemimpinan Q dalam hal ini memiliki empat makna. Pertama, Q berarti kecerdasan atau intelligence (seperti dalam IQ – Kecerdasan Intelektual, EQ – Kecerdasan Emosional, dan SQ – Kecerdasan Spiritual). Q Leader berarti seorang pemimpin yang memiliki kecerdasan IQ—EQ—SQ yang cukup tinggi. Kedua, Q Leader berarti kepemimpinan yang memiliki quality, baik dari aspek visioner maupun aspek manajerial.  Ketiga, Q Leader berarti seorang pemimpin yang memiliki qi (dibaca ‘chi’ – bahasa Mandarin yang berarti energi kehidupan). Makna Q keempat adalah seperti yang dipopulerkan oleh KH Abdullah Gymnastiar sebagai qolbu atau inner self. Seorang pemimpin sejati adalah seseorang yang sungguh-sungguh mengenali dirinya (qolbu-nya) dan dapat mengelola dan mengendalikannya (self management atau qolbu management). Menjadi seorang pemimpin Q berarti menjadi seorang pemimpin yang selalu belajar dan bertumbuh senantiasa untuk mencapai tingkat atau kadar Q (intelligence – quality – qi — qolbu) yang lebih tinggi dalam upaya pencapaian misi dan tujuan organisasi maupun pencapaian makna kehidupan setiap pribadi seorang pemimpin.  Untuk menutup tulisan ini, saya merangkum kepemimpinan Q dalam tiga aspek penting dan saya singkat menjadi 3C , yaitu:

1. Perubahan karakter dari dalam diri (character change)

2. Visi yang jelas (clear vision)

3. Kemampuan atau kompetensi yang tinggi (competence)

Ketiga hal tersebut dilandasi oleh suatu sikap disiplin yang tinggi untuk senantiasa bertumbuh, belajar dan berkembang baik secara internal (pengembangan kemampuan intrapersonal, kemampuan teknis, pengetahuan, dll) maupun dalam hubungannya dengan orang lain (pengembangan kemampuan interpersonal dan metoda kepemimpinan).  Seperti yang dikatakan oleh John Maxwell: ”The only way that I can keep leading is to keep growing. The day I stop growing, somebody else takes the leadership baton. That is the way it always it.” Satu-satunya cara agar saya tetap menjadi pemimpin adalah saya harus senantiasa bertumbuh. Ketika saya berhenti bertumbuh, orang lain akan mengambil alih kepemimpinan tersebut. (sumber: http://www.roy-sembel.com)

Aug

18

Tentang amfii
Posted by amfii

Imam Safi’i kelahiran asli kota tercinta saya yaitu kota Bojonegoro, lahir tepatnya di bojonegoro tanggal 28 juni 1991, sekarang saya berumur 19 tahun dan kegiatan saya yaitu kuliah di kota dingin yaitu kota malang tepatnya saya kuliah di universitas muhammadiyah malang.  

Aug

18

Hello world!
Posted by amfii

Welcome to Student Blogs. This is your first post. Edit or delete it, then start blogging!

Search

Archives

  • Categories

  • amfii

  • teman-teman aplinet

  • universitas muhammadiyah malang

  • December 2014
    M T W T F S S
    « Aug    
    1234567
    891011121314
    15161718192021
    22232425262728
    293031  

    universitas muhammadiyah malang

    Categories

    Copyright © 2014 Kepemimpinan - cintailah dirimu sendiri
    Powered by WordPress using a Free Biolery Wordpress Theme. Subscribe to our RSS
    Biofuel, Wood Pellets, Wood Pellet Stoves